
BAKAT laksana Area 51 di Gurun Nevada, tempat di mana mayat-mayat alien disembunyikan:misterius !jika setiap orang tahu dengan pasti apa bakatnya maka bakat itu adalah utopia. Sayangnya utopia tak ada dalam dunia nyata. Bakat tidak seperti alergi, dan ia tidak otomatis timbul seperti jerawat, tapi dalam banyak kejadian ia harus ditemukan
Banyak orang yang berusaha mati-matian menemukan bakatnya dan banyak pula yang menunggu seumur hidup agar bakatnya atau dirinya ditemukan, tapi lebih banyak lagi yang merasa dirinya berbakat padahal tidak. Bakat menghinggapi orang tanpa diundang. Bakat main bola seperti Christiano Ronaldo mungkin diam-diam dimiliki seorang tukang taksir di kantor pegadaian. Seorang Karl Mark yang lain bisa saja sekarang sedang duduk menjaga wartel di sebuah kampus di Bandung. Seorang kondektur ternyata adalah John Denver, seorang salesman ternyata berpotensi menjadi penembak jitu, atau seorang tukang nasi bebek di Surabaya ternyata berbakat menjadi composer besar seperti Zubin Mehta.
Namun, mereka tak pernah mengetahui hal itu. Si tukang taksir terlau sibuk melayani para kuli angkut yang kehabisan uang sehingga tak punya waktu main bola. Sang penjaga wartel sepanjang hari hanya duduk memandangi struk yang menjulur-julur dari printer Epson yang bunyinya merisaukan seperti lidah wanita dalam film Perempuan Berambut Api, kondektur dan salesman setiap hari mengukur jalan, dan lingkungan si tukang nasi bebek sama sekali jauh dari sesuatu yang berhubungan dengan musik klasik. Ia hanya tahu bahwa jika mendengarkan orkestra telinganya mampu melacak nada demi nada yang berdenting dari setiap instrument dan hatinya bergetar hebat. Sayangnya sepanjang hidupnya ia tak pernah mendapat kesempatan sekalipun pun memegang musik, dan tak juga pernah ada seorang pun yang menemukannya.maka ketika ia mati, bakat gilang gemilang pun ikut terkubur bersamannya. Seperti mutiara yang tertelan kerang, tak pernah seorang pun melihat kilaunya.
Di Amerika orang-orang (pemandu bakat, red) seperti ini khusus berkeliling dari satu negara bagian lain untuk mencari pemain baseball potensial. Jika—satu di antara kemungkinan—orang ini tak pernah menghampiri seseorang yang sesungguhnya berbakat, maka hanya nasib yang menentukan apakah bakat seseorang pernah ditemukan atau tidak, hal ini setidaknya pernah dibuktikan oleh Forest Gumb, jika ia tidak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di barak pada suatu sore maka mungkin ia tak pernah tahu kalau ia sangat berbakat bermain tennis meja. Ritchie Blackmore juga begitu, kalau orangtuanya membelikan papan catur untuk hadiah ulang tahun mungkin ia tak pernah tahu kalau dia berbakat menjadi seorang gitaris classic rock
Karena bakat sering kali harus ditemukan MULANE GOLEK’I BAKATMU OPO AAA !!!!!! KABEH WONG NDUWE BAKAT !!!BUKANNYA GAK ADA TAPI BELUM KETEMU!!!!!!!!!