.jpg)
EARLY MORNING BLUE
AWAN-AWAN kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah ingin menyentuh permukaan laut yang surut jauh, beratus-ratus hektare luasnya, hanya setinggi lutut,meninggalkan pohon-pohon kelapa yang membujur di sepanjang pantai di sore hari. Aku tahu bahwa awan-awan kapas biru muda itu dapat menjadi penghibur bagi mataku, tapi dia tak kan pernah menjadi sahabat bagi jiwaku, karena sejak minggu-mingu bulan ke 9 ’09 lalu aku telah menjadi sekuntum daffodil yang gelisah, sejak kukenal sebuah kosakata baru dalam hidupku:rindu.
Kini setiap hari aku dilanda rindu pada nona bermata sipit itu. Aku rindu pada wajahnya,rindu pada paras rambutnya, dan rindu pada senyumannya ketika memandangku dan pandangan sinisnya,rindu pada rambut-rambut liar di dahinya,serta rindu pada caranya merapikan lipatan-lipatan lengan bajunya.
Lonike,ia menggulum senyum, manis sekali tak terperikan. Hadir dalam balutan busana batik bermotif coklat putih, baju acara penting yang memesona, di suatu bulan bulan september yang meriah, ia turun ke bumi bagai venus dari laut cina selatan. Baju itu mengikuti lekuk tubuhnya dari mata kaki sampai ke leher. Tubuhnya ramping bertumpu di atas sepasang sandal berwarna merah muda. Cantik rupawan melebihi mayoret(di baca mayoret biasa bukan monyet,red) manapun.tingginya kurang dari 160 cm, jelas aku lebih tinggi.
Serasi dengan rumpun genayun yang tumbuh lurus menjulang di sampingnya ia mengikat rambutnya menjadi satu ikatan dengan ikatan berwarna merah muda yang di tegakkan tingi-tingi. Beberapa helai rambut yang disatukan jatuh di atas pundaknya. Beberapa helai rambut lainnya dibiarkan jatuh melintasi wajahnya yang teduh jelita.
Ada sedikit kilasan kedewasaan pada pancaran matanya dibanding ketika kelas XI dulu. Teori yang memaksakan pendapat bahwa wanita bermata lebar kelihatan lebih cantik akan runtuh berantakan jika melihat Lonike. Matanya yang sipit sedikit tertarik ke atas, senada dengan bentuk alis yang dibiarkan alami. Dalam lukisan wajah yang tirus bentuk mata seperti itu menciptakan rasa kecantikan dengan karakter yang sangat kuat.inilah pusat gavitasi wajah cik Lon.
Sejujurnya sahabat aku tak sanggup mengatasi keanggunan pada level seperti ini. Ini bukan untukku. Aku merasa tak pantas. Bagiku ia seperti seseorang yang akan selalu menjadi milik orang lain. Dan aku, tak lebih dari pengisi data nama dan alamat pada buku simfoninya yang mungkin akan terlupakan setelah ini. Aku tak mungkin berada dalam liga ini. Rasanya aku ingin segera lulus saja dari sekolah ini, tapi itu bukan aku !aku aku tak bisa mundur begitu saja kubiarkan ini mengalir hingga nanti entah apa yang akan terjadi di kemudian hari(pada bagian ini akan di ceritakan lebih lanjut episode lain.red !!!)
0 komentar:
Posting Komentar